Pengalaman Daddy tes TOEFL-ITP

Untuk melengkapi berkas aplikasi beasiswa ADS (sekarang disebut AAS) maka Daddy akhirnya menjalani juga tes TOEFL tertanggal 20 April 2013. Padahal sudah sejak dulu kala (sekira SMU) Daddy ingin mengetahui ‘kemampuan Bahasa Inggris’ Daddy melalui tes TOEFL. Tertunda beberapa waktu lamanya (lebih dari 10 tahun), akhirnya terlaksana juga, kemungkinan karena memang sekarang benar-benar diperlukan.

Saat hari ujian tiba, Daddy minim persiapan jangka pendek. Daddy tidak ikut kursus atau les khusus, malamnya juga tidak belajar khusus, hanya berbekal pengalaman menerjemahkan beberapa jurnal bahasa Inggris dan belajar ala kadarnya yang sudah dijalani sejak lama (mungkin sejak SD kelas 4 sudah mulai tertarik belajar bahasa Inggris mandiri, karena di SDN 1 Talok tidak ada mata pelajaran English).

Kegugupan makin bertambah karena setengah jam sebelum jadwal ujian pihak penyelenggara ujian menelepon, sekedar tanya posisi dan mengingatkan bahwa ujian akan segera dimulai. Karena masih jauh, jadi kemungkinan besar Daddy akan terlambat. Setelah jam yang ditentukan terlewati dan Daddy masih beberapa kilometer dari tempat ujian, Daddy menelepon tempat ujian, ternyata ujian belum dimulai… karena panitia dan peserta lain menunggu Daddy saja yang belum tiba.

Sesampainya di lokasi ujian yang berada di dekat Gramedia Manado, Daddy menghambur masuk dan segera meninggalkan KTP di resepsionis dan menuju tempat ujian di lantai 2. Ujian pun segera dimulai setelah diberikan beberapa penjelasan dan pengecekan kelengkapan ujian.

Tes TOEFL ITP adalah Paper Based Test (PBT) yang menggunakan lembar jawaban komputer (LJK) layaknya ujian akhir nasional maupun SNMPTN. Jadi perlengkapan ujian cukup sederhana: pensil 2B dan penghapus wajib hukumnya, rautan dan penggaris berlubang sifatnya opsional.

Proses tesnya sendiri tidak terlalu mengagetkan, kecuali pada bagian Listening, yang menjadi bagian pertama dari rangkaian tes TOEFL ITP. Percakapan pendek yang mengawali section Listening terasa amat ‘pendek’ karena saat awal-awal belum terbiasa dengan tipe soal tersebut, selanjutnya setelah beberapa soal sudah bisa lebih ‘jelas’ terdengar. Latihan, terutama latihan listening adalah mutlak supaya tidak terkaget-kaget saat memulai tes ini. Section yang lain tidak terlalu mengagetkan karena bersifat tulisan murni, yang sudah banyak dipelajari sejak SLTP/SMP, bahkan bagi beberapa orang sejak SD.

Setelah satu minggu berlalu, pada tanggal 29 April 2013 Daddy pun menelepon untuk menanyakan hasilnya. Ternyata belum ada, dan disampaikan bahwa waktu pengiriman hasilnya maksimal 14 hari kerja sejak waktu ujian. Eh, siang harinya lembaga bahasa Inggris tempat Daddy menjalani tes TOEFL yang menelepon, menyampaikan bahwa hasil ujian tertanggal 20 April 2013 baru saja tiba dan sudah bisa diambil. Karena Daddy masih jauh di luar kota Manado, maka Daddy belum langsung ambil kemarin. Daddy hanya menanyakan skor TOEFL ITP yang Daddy capai. Puji Tuhan, hanya oleh karunia Tuhan Yesus maka Daddy bisa mendapat skor yang melampaui persyaratan minimal untuk melamar beasiswa Australia.

Buat rekan pembaca yang akan mengikuti tes TOEFL ITP, persiapan terbaik adalah belajar. Bila jadwal ujian masih agak lama, bisa mengintensifkan belajar, lebih baik dengan belajar dari kumpulan soal dan berlatih listening. Doa kepada Tuhan adalah hal mendasar, yang tidak selayaknya hanya dilakukan menjelang ujian :). Semoga sukses.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s